Sabtu, 16 Oktober 2010

Ikhwan Tapi Bakwan

Istilah ini pertama kali ana dengar dari sahabat sesusah senang kuliahku Ukhti Rina Purnama Sari, yang artinya cowok alim yang ternyata masih juga suka godain akhwat yang sedep kalo dipandang, Jadi istilahnya, keimanan dan kealiman dia terhadap Islam Cuma sebagai topeng saja untuk menggaet cewek-cewek. Istilah ini merupakan salah satu bab dari Judul Buku yang baru saja ana khatamkan “ Gombal Warning”, buku yang membuat para ikhwan memuhasabah dan memprotect dirinya kuat-kuat, lalu bagi yang akhwat buku ini mampu membuat bulu kuduk merinding dan lebih menjaga harta-harta miliknya.

Ukhtifillah, kita ini perempuan, terlalu banyak hal menggoda dan menarik pada kita. Mulai dari ujung rambut kita yang bisa merangsang saraf simpatik di kulit pria sampai kuku jari kaki yang membuat hormone epinefrin disekresi di tubuh pria. Pokoknya tiap senti dari tubuh kita itu indah. Akibatnya, kita bisa jadi barang obralan bak kue yang dirubungi lalat kalau kita tidak bisa menjaga kemenarikan pada tubuh kita. Tergantung pribadi masing-masing aja, mau jadi kue beretalase kaca atau kue obralan dirubungi lalat? Life is choice..

Menutup aurat merupakan perintah Allah SWT bagi kita, perempuan, bukan main-main ini ukhtifillah, ini semata-mata menjaga harkat martabat kita, sebagai perempuan, agar kita tetap jadi kue beretalase kaca sampai akhir hayat kita. Menutup aurat pun ada aturannya, bagi yang udah berkerudung jangan merasa aman dulu, siapa tau kerudung kita masih salah. Masih belum menutupi bagian thorax, masih transparan, baju kita masih ketat, de el el. Ana aja masih jelek sekali dalam berpakaian, masih pake 2 lembar baju, belum gamis, kerudung masih transparan karena ga ada duit beli yang tebal, hikz, baju masih banyak yang masih bermanset. Intinya, tidak ada yang sempurna dalam cara kita menjaga diri, akan selalu ada cacat karena kita memang sumbernya kesalahan. Tinggal bagaimana kitanya terus berusaha untuk memperbaiki diri.

Memang lumrah kalau semua perempuan ingin tampil cantik dimanapun kita berada. Tapi coba piker,buat apaaaa?? Buat banyak yang naksir??! Ntar pusing sendiri kalo banyak yang naksir! Atau supaya dipuji?!! Jiaaaaaahh, jegar! Tampung aja tuh pujian sampe sekardus, ntar dijual deh..Haha, lucu. Satu yang harus kita percayai bahwa ketika kita benar-benar telah berjilbab dan bertitel jilbaber bukan hanya kerudunger, kita tetap akan terlihat cantik, walaupun tidak dimata manusia yang matanya terbatas, tapi yang pasti kita ruar biasa cantik dimata Allah SWT.. Ini kan yang penting? Apabila menurut Allah SWT kita cantik maka akan cakeplah jodoh kita nanti..(ngarep)

Kembali kepada ikhwan tapi bakwan. Fakta-fakta di atas lah yang membuat dunia ini rawan terhadap golongan si bakwan. Walaupun kita sudah jilbaber atau kerudunger sinis biar ga ada yang ganggu, tetap aja ada yang mampu meluluhkan hati kita. Namanya juga manusia, bisa kena virus merah jambu, tinggal bagaimana kita menyikapi hal ini dengan sebaik mungkin agar tak kebablasan.

Kewajiban setiap muslim sebagai da’i atau da’iyah membuat para akhwat harus turut juga aktif di harakah tertentu, agar dakwah kita terkontrol dan terkoordinir dan ada yang terus mengingatkan kita akan kewajiban ini selain hakikat Muraqabatullah dalam diri kita. Bagaimanapun islaminya sebuah harakah, tetap perlu ada dua kubu disana,kubu ikhwan dan kubu akhwat, yang memungkinkan seorang da’i memiliki intensitas ketemu dengan da’iyah yang cukup di atas toleran.

Kita tahu bahwa system demokrasi saat ini tidak membatasi pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Karena inilah perkuliahan ana di kampus tidak membatasi ruang gerak laki-laki untuk pedekate ke perempuan, padahal perempuannya dah berusaha segalak mungkin. Tempat duduk yang bercampur baur bisa mempengaruhi lingkungan da’i dan da’iyah. Sudah sering ketemu waktu kuliah ditambah lagi ketemu di harakah. Wah lengkap sudah fasilitas buat setan menggoda.

Fakta ikhwan tapibakwan sudah ana temukan sendiri di kampus. Bayangkan, ini baru bulan kedua ana menyandang predikat mahasiswa sibuk, tapi virus bakwan pada diri ikhwan sudah tersebar. Sebut saja “cecep”. Cecep ini lulusan pesantren, hadist-hadist yang dihapalnya banyak, seabrek, kalau ngomong dikit-dikit bawa hadist, nada bicaranya udah kayak ulama lagi ceramah. Semua akhwat jadi terkagum-kagum deh ama si ikhwan yang satu ini. Tapi ternyata, cecep ini terikat dengan sebuah perjanjian ga penting dengan manusia lainnya. Isi perjanjian ini kalau bisa memotivasi untuk terus berprestasi dan beriman sih mending, ini memotivasi untuk inhal dan cari cewek. Masya Allah..Katanya ikhwaaaann, kok bakwaaann??

Inilah kenapa pentingnya mama menekankan akhlak pada anak-anaknya. Kita tahu banyak orang alim yang mampu menghapal banyak doa dan surah tapi kelakuannya masih jauh dari Al Qur’an..

“Islam itu diamalkan vina..Bukan buat dihapal dan dibaca saja..”, kata mama.

Banyak para sahabat Nabi SAW yang ibadah sholat, puasa, dan sunahnya biasa saja.. Tapii akhlaknya itu lhooo, yang bikin kagum seantero umat. Pintu surge kan banyak, celetuk orang, Jadi biarin aja ibadah bagus tapi kelakuan suka-suka gue..Jiaaaaaaaaaaaahhhhhhh, jangan gitu ikhwan fillah, miris hati ini mendengarnya.. Bagus atau tidaknya amal ibadah kita itu tercermin dari kelakuan kita. Kalau orang rajin sholat di mesjid tapi malamnya masih suka dugem, berarti sholatnya bukan karena Allah SWT, tapi karena yang lain yang tidak bisa menghalangi dia dari perbuatan tercela.

Ukhti, berhati-hatilah, teman-temanmu yang alim belum tentu punya protect yang kuat terhadap keistimewaanmu. Belajar dari pengalaman nulis tangan 15 halaman laporan fisiologi, ana menemukan pelajaran berharga sehabis memuhasabah diri terus menerus. Sebut saja A, seseorang yang ana kagumi karena charisma islam di dalam dirinya. Banyak cowok yang punya charisma islam, tapi hanya beberapa yang mampu mengeluarkan charisma itu menjadi charisma kecerdasan-ketampanan-dan ketenangan, sehingga tiap-tiap pribadi baik muslim atau non bisa menerimanya dengan hati senang. Dia, si A, punya protect yang kuat terhadap waktunya. Si A, mampu mengerjakan begitu banyak hal dalam waktu-waktunya dengan luar biasa sempurna. Kita memang melihat hasil, tapi kita juga melihat proses! Hasil yang diraih si A di bidag prestasi bisa dibilang mencengangkan kalo ga mau dibilang menggiurkan, IPK ok, hafalan Al Qur’anul Karim ok, sholat ok, pengajian ok, tapi dia punya satu kekurangan yang lambat ana sadari. Padahal kalau kagum, semua hal akan terasa benar, tapi sepertinya jiwa kritis lahiriah dalam diri ana tidak mau diam. PROTECT TERHADAP PEREMPUAN, itulah yang belum dia kaji.

Kedudukannya yang kharismatik membuat profesinya dikelilingi perempuan. Masalahnya bukan hanya dikelilingi, tapi si A juga dirubungi dengan cinta dari sejuta perempuan. Perempuan jaman sekarang, segelintir oknum, bahkan rela mengumbar senyum termanisnya sampai gigi terlihat kepada si A. Lalu, apa tanggapan si A? Kalo diliat dari amalannya, dia akan menunduk. Tapi satu kali lagi keheranan membuat ana tak bisa berhenti tersenyam-senyum sendiri, si A membalas senyum itu dan melihat tepat garis lurus ke mata para wanita. Ironis? Ya..

Pandangan adalah bujuk rayu setan yang paling pertama. Paling bahaya, karena reseptor mata kita akan langsung mengirimkannya ke otak, tempat semua bahan diolah, dan sayangnya otak kita sangat percaya pada mata. Buktinya orang selalu bilang:

“ Ayo sini, aku lihat dulu baru percaya.”

Fakta kesehatan mengatakan bahwa kita sangat mempercayai penglihatan. Segala rangsangan yang diterima oleh indra tubuh lain akan merespon percaya bila indra penglihatan telah membuktikannya.Itulah mengapa, hal salah bisa jadi benar, hal benar bisa jadi salah, hanya dengan salah melihat. Sekali lagi, pandangan, bisa merusak iman seseorang. Dua orang berbeda jenis sangat diperintahkan menjaga pandangan, karena sekali lagi kita,perempuan, istimewa, mata kita saja sudah mampu membuktikan cinta yang disimpan-simpan oleh seorang ikhwan.

“katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An-Nur : 30)

Ana membandingkan si A dengan si B dan si C, para ikhwan lainnya yang belum mampu merefleksikan charisma islam yang mereka miliki agar bisa diterima semua kalangan. Dan hasilnya adalah eng ing eng.. Si B dan C memiliki protect yang kuat terhadap perempuan. Si B dan si C mampu membuat kapok para perempuan yang berani menatap mata mereka apalagi menyentuh mereka. Efek jera inilah yang ana tekankan. Si A pernah dipegang oleh seorang perempuan, wajah syok memang terlintas di wajahnya, tapi si A tidak mampu menegur perempuan itu untuk menunjukkan betapa salahnya kelakuan itu. Tapi si B juga pernah dipegang oleh perempuan, teguran langsung tertumpah dari mulutnya. Inilah efek jera yang ana maksud. Efek jera ini tidak bisa dilakukan si A. Entah karena apa, tapi ana membuat kesimpulan bahwa protect si A dari perempuan masih perlu diasah lagi.

Nah ukhti, see? Kealimam seseorang belum tentu mampu membuat dia memiliki protect yang kuat terhadap kita. Tapi kita bisa, kita bukan kubu yang sering menikmati keindahan para ikhwan. Kita kubu yang pada bagian korteks cerebri kita lebih luas area sensorisnya dibanding para ikhwan. Maka manfaatkanlah itu, kita perlu mengolah setiap respon kita agar tidak salah kaprah seperti jadi akhwat tapi bakwan atao jadi gandengan ikhwan yang bakwan.

Afwan jiddan.

Mohon kritik dan saran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar